Batang, 20 Juni 2026 – Upaya pengembangan rintisan agrowisata di Desa Pesantren, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, terus diperkuat melalui kegiatan Diversifikasi Pertanian dan Penyusunan Jalur Agritourism Desa Pesantren, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan tim pengabdian perguruan tinggi dengan Pemerintah Desa Pesantren, kelompok tani, dan kelompok sadar wisata untuk membahas pengembangan pertanian sekaligus penataan potensi wisata berbasis masyarakat.

Kegiatan merupakan bagian dari Skema Pengabdian Berbasis Kewilayahan (PW) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemdiktisaintek Tahun 2026. Program dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Universitas Muria Kudus (UMK) dengan Pemerintah Desa Pesantren sebagai mitra pemerintah.

Pada kegiatan tersebut, mitra sasaran yang terlibat adalah Kelompok Tani Melati Sejahtera dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sadesa. Keduanya memiliki peran penting dalam pengembangan agrowisata karena mewakili dua unsur utama yang akan dikolaborasikan, yaitu potensi pertanian dan pengelolaan aktivitas wisata desa.

Pertanian sebagai Fondasi Agrowisata

Diversifikasi pertanian menjadi salah satu fokus penting dalam pengembangan Desa Pesantren sebagai kawasan agritourism. Pertanian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan komoditas, tetapi secara bertahap dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata dan pendidikan bagi masyarakat maupun calon pengunjung.

Melalui keterlibatan kelompok tani, kebun dan berbagai aktivitas budidaya berpotensi dikembangkan menjadi ruang edukasi. Pengunjung nantinya dapat mengenal proses pertanian mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan tanaman hingga panen dan pengolahan hasil pertanian.

Pendekatan tersebut diharapkan memberikan nilai tambah terhadap aktivitas pertanian yang telah berkembang di masyarakat. Produk pertanian tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai komoditas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari atraksi dan pengalaman dalam paket agrowisata Desa Pesantren.

Forum bersama kelompok tani juga menjadi bagian penting untuk menyamakan pemahaman mengenai arah pengembangan pertanian yang akan terintegrasi dengan program wisata desa. Pengelolaan yang terencana dibutuhkan agar kegiatan wisata tetap mendukung produktivitas pertanian sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pokdarwis Mulai Menata Jalur Agritourism

Selain penguatan kelompok tani, kegiatan tanggal 20 Juni 2026 juga menempatkan Pokdarwis Sadesa sebagai mitra strategis dalam penyusunan jalur agritourism.

Penyusunan jalur menjadi tahapan penting karena Desa Pesantren memiliki potensi yang tidak hanya berupa kawasan pertanian, tetapi juga bentang alam, sungai, jalur tracking, kehidupan masyarakat, serta kegiatan sosial dan budaya lokal.

Jalur agritourism nantinya diharapkan mampu menghubungkan beberapa potensi tersebut dalam satu pengalaman kunjungan. Dengan demikian, wisatawan tidak sekadar datang ke satu lokasi, tetapi dapat mengikuti perjalanan yang memperkenalkan karakter Desa Pesantren dari berbagai sisi.

Pokdarwis memiliki peran dalam mengenali titik-titik potensial, menentukan jalur yang layak dikembangkan, mendokumentasikan destinasi, serta mempersiapkan pelayanan kepada calon wisatawan. Ke depan, kapasitas anggota Pokdarwis juga akan diperkuat dalam bidang pengelolaan destinasi, pemanduan wisata, dokumentasi, dan promosi melalui media digital.

Kolaborasi Poktan dan Pokdarwis

Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara Poktan dan Pokdarwis. Dalam pengembangan agrowisata, kedua kelompok memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Poktan menjadi penggerak dalam penyediaan aktivitas pertanian, pengelolaan komoditas, serta pengembangan kawasan budidaya. Sementara itu, Pokdarwis berperan dalam mengemas potensi tersebut menjadi pengalaman wisata, mengatur jalur kunjungan, melakukan dokumentasi, hingga mempromosikannya kepada masyarakat luas.

Kolaborasi keduanya menjadi penting agar konsep agritourism di Desa Pesantren tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Pengembangan diarahkan pada terciptanya suatu ekosistem wisata berbasis masyarakat, dengan warga desa sebagai pelaku utama.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Desa Pesantren diharapkan dapat membangun model agrowisata yang mengintegrasikan pertanian, alam, edukasi, budaya lokal, dan pemberdayaan masyarakat. Penguatan kapasitas kelompok masyarakat menjadi salah satu kunci agar program dapat terus berkembang dan dikelola secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *